Jam

Minggu, 12 Desember 2010

Kurikulum Pendidikan Islam

BAB I
KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

A.      PENGERTIAN KURIKULUM
  1. Secara Etimologi
Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish. Istilah ini muncul pertama kali dalam kamus Webster tahun 1856. Barulah pada tahun 1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran di suatu perguruan. Dalam kamus tersebut kurikulum diartikan 2 macam, yaitu:
a.       Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari siswa di sekolah atau perguruan tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu.
b.      Sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau jurusan.
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan.
Dalam Qamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.
  1. Secara Terminologi
Para ahli telah banyak mendefinisikan kurikulum diantaranya.
a.         Crow mendefiniskan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah.
b.         M. Arifin memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem insitusional pendidikan.
c.         Zakiah Daradjat memandang kurikulum sebagai suatu progam yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakn untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu.
d.        Dr. Abdamardasyi Sarhan dan Dr. Munir Kamil yang distir oleh AL-Syaibani, bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.
Bahkan Alice Miel mengatakan bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, pengetahuan, kecakapan dan sikap-sikap orang yang melayani dan dilayani di sekolah (termasuk di dalamnya seluruh pegawai sekolah) dalam hal ini semua pihak yang terlibat dalam memberikan bantuan kepada siswa termasuk ke dalam kurikulum.
  1. Menurut Fungsinya
Pengertian kurikulum tidak hanya terbatas pada program pendidikan namun juga dapat diartikan menurut fungsinya.
a.         Kurikulum sebagai program studi.
Yaitu seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh peserta didik di sekolah atau di instansi pendidikan lainnya.
b.        Kurikulum sebagai konten.
Yaitu data atau informasi lainnya yang memungkinkan timbulnya belajar.
c.         Kurikulum sebagai kegiatan berencana.
Yaitu kegiatan yang direncanakn tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan hasil yang baik.
d.        Kurikulum sebagai hasil belajar
Yaitu seperangkat tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu hasil tertentu tanpa menspesifikasikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil-hasil itu, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan.
e.         Kurikulum sebagai reproduksi kultural
Yaitu transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan dipahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut.
f.          Kurikulum sebagai pengalaman belajar.
Yaitu keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah.
g.         Kurikulum sebagai produksi.
Yaitu seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.
            Adanya pandangan bahwa kurikulum hanya berisi rencana pelajaran di sekolah disebabkan oleh adanya pandangan tradisional yang mengatakan bahwa kurikulum memang hanya rencana pelajaran.
     Menurut pandangan modern, kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran atau bidang studi. Kurikulum dalam pandangan modern ialah semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Pandangan ini bertolak dari sesuatu yang aktual, yang nyata, yaitu yang aktual terjadi di sekolah dalam proses belajar. Atas dasar ini maka inti kurikulum adalah pengalaman belajar.

B.       KOMPONEN KURIKULUM
Mengingat bahwa fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Maka kurikulum itu isinya luas sekali.
1.    Menurut Hasan Langgulung ada 4 komponen utama kurikulum yaitu:
a.         Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
b.         Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut mata pelajaran.
c.         Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka ke arah yang dikehendaki oleh kurikulum.
d.        Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.
2.    Menurut penulis komponen kurikulum itu meliputi:
a.         Tujuan, yang ingin dicapai meliputi : (1) Tujuan Akhir, (2) Tujuan Umum, (3) Tujuan Khusus, (4) Tujuan Sementara.
Di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi seorang pendidik harus pula dapat merumuskan kompotensi yang ingin dicapai, yaitu : (1) Kompetensi lulusan, (2) Kompetensi lintas kurikulum, (3) Kompotensi mata pelajaran, dan (4) Kompetansi dasar.
b.         Isi kurikulum                                                       
Berupa materi pembelajaran yang diprogram untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
c.         Media (sasaran dan prasaran)
Media sebagai sarana perantara dalam pembelajaran untuk menjabarkan isi kurikulum agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik.
d.        Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta teknik mengajar yang digunakan. Dalam strategi termasuk juga komponen penunjang lainnya seperti : (1) sistem administrasi, (2) pelayanan BK, (3) remedial, (4) pengayaan, dsb.
e.         Proses pembelajaran
Komponen ini sangat penting, sebab diharapkan melalui proses pembelajaran sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum.
f.          Evaluasi
Dengan evaluasi (penilaian) dapat diketahui cara pencapaian tujuan.
3.    Sedangkan menurut Hilda Taba yang diikuti oleh Ralph W. Tyler, isi kurikulum yang luas itu dapat dikelompokkan menjadi empat saja, yaitu tujuan, isi, pola belajar-mengajar, dan evaluasi. Oleh karena itu, bila orang ingin membuat atau menilai kurikulum, perhatiannya tertu tertuju pada empat pertanyaan:
a.         Apa tujuan pengajaran? Di sini pengajaran diartikan dalam pengertian yang luas (inti pengalaman di sekolah ialah belajar).
b.         Pengalaman belajar apa yang disiapkan untuk mencapai tujuan?
c.         Bagaimana pengalaman belajar itu dilaksanakan?
d.        Bagaimana menentukan bahwa tujuan telah dicapai?
Maka diketahui bahwa suatu kurikulum mengandung atau terdiri atas komponen-komponen:
a.       tujuan,
b.      isi,
c.       metode atau proses belajar-mengajar,
d.      evaluasi.
Komponen di atas saling berkaitan. Komponen tujuan mengarahkan atau menunjukkan sesuatu yang hendak dituju dalam proes belajar-mengajar. Komponen isi menunjukkan materi proses belajar-mengajar tersebut. Materi (isi) itu harus relevan dengan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan tadi. Komponen proses belajar-mengajar mempertimbangkan kegiatan anak dan guru dalam prose belajar-mengajar. Adapun komponen evaluasi adalah kegiatan kurikuler berupa penilaian untuk mengetahui berapa persen tujuan tadi dapat dicapai.

C.      KERANGKA DASAR KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Kurikulum yang baik dan relevan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan islam adalah yang bersifat intergrated dan komperensif serta menjadikan al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber utama dalam penyusunan.
Kerangka dasar tersebut adalah, (1) Tauhid, dan (2) Perintah membaca.
2.      Tauhid
Tauhid sebagai kerangka dasar utama kurikulum harus dimantapkan semenjak masih bayi dimulai dengan mendengarkan kalimat-kalimat tauhid seperti azan atau iqamah terhadap anak yang baru dilahirkan.
3.      Perintah Membaca
Kerangka dasar selanjutnya adalah perintah “membaca” ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam ayat yaitu:
a.         Ayat Allah yang berdasarkan wahyu,
b.         Ayat Allah yang ada pada diri manusia, dan
c.         Ayat Allah terdapat di alam semesta di luar manusia.

D.      DASAR KURIKULUM PENDIDIKAN PENDIDIKAN ISLAM
Herman H. Home memberikan dasar bagi penyusunan kurikulum dengan tiga macam, yaitu :
1.      Dasar Psiokogis, yang digunakan untuk memenuhi dan mengetahui yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (the ability and needs of children).
2.      Dasar Sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntutan yang sah dari masyarakat (the legitimate demands of society).
3.      Dasar Filosofit, yang digunakan untuk mengetahui keadaan semesta/ tempat kita hidup (the kind of universe in which we live)
Oleh karena itu yang menjadi dasar dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam adalah :
1.      Dasar Agama
Dalam arti segala sistem yang ada dalam masyarakat termasuk pendidikan, harus meletakan dasar falsafah, tujuan dan kurikulumnya pada dasar agama islam dengan segala aspeknya.
2.      Dasar Falsafah
Dasar ini merupakan pedoman bagi tujuan pendidikan islam secara filosofit.
3.        Dasar Psikologis
Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan psikis peserta didik.
4.      Dasar Sosial
Dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan Islam yang tercermin pada dasar sosial yang mengandung ciri-ciri masyarakat isalam dan kebudayaanya.
5.        Dasar Organisatoris
Dasar ini memberikan landasan dalam penyusunan bahan pembelajaran beserta penyajiannya dalam proses pembelajaran beserta penyajiannya dalam proses pembelajaran.

E.       PRINSIP-PRINSIP KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Menurut Al-Taumi prinsip-prinsip dasar yang harus dijadikan pegangan pada waktu menyusun kurikulum ada 7 macam, yaitu:
1.      Prinsip Pertama
Prinsip pertama adalah pertautan yang sempurna dengan agama termasuk ajaran dan nilainya.
2.      Prinsip Kedua
Prinsip kedua adalah prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan dan kandungan kurikulum.
3.      Prinsip Ketiga
Prinsip ketiga adalah keseimbangan yang relative antara tujuan dan kandungan kurikulum.
4.      Prinsip Keempat
Prinsip keempat adalah berkaitan dengan bakat, minat kemampuan, dan kebutuhan pelajar, begitu juga dengan alam sekitar fisik dan social di mana pelajar itu hidup dan berinsteraksi untuk memperoleh pengetahuan, kemahiran pengalaman dan sikapnya.
5.      Prinsip Kelima
Prinsip kelima adalah pemeliharaaan perbedaan individual di antara pelajar dalam bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan masalahnya, dan juga memelihara perbedaan dan kelainan di antara alam sekitar dan masyarakat.
6.      Prinsip Keenam
Prinsip keenam adalah prinsip perkembangan dan perubahan Islam yang menjadi sumber pengambilan falsafah, prinsip, dasar kurikulum, metode mengajar pendidikan Islam mencela keras sifat meniru (taklid) secara membabi buta dan membeku pada yang kuno yang diwarisi dan mengikuti tanpa selidik.
7.      Prinsip Ketujuh
Prinsip ketujuh adalah prinsip peraturan antara mata pelajaran, pengalaman dan kativita yang terkandung dalam kurikulum.
Selanjutnya menurut Prof. H. M. Arifin, MEd., bahwa prinsip-prinsip yang harus diperhatikan pada waktu menyusun  kurikulum mencakup 4 macam, yaitu:
1.    Kurikulum pendidikan yang sejalan dengan identitas Islam.
2.    Berfungsi sebagai alat yang efektif mencapai tujuan tersebut.
3.    Kurikulum yang bercirikan Islam.
4.    Antara kurikulum, metode dan tujuan pendidikan Islam harus saling berkaitan dan saling menjiwai dalam proses mencapai produk yang bercita-citakan menurut ajaran Islam.[1]
Sedangkan menurut Dr. Asma Hasan Fahmi menyatakan bahwa prinsip-prinsip yang dijadikan pegangan dalam menentukan kurikulum ada 6 macam, yaitu:
1.    Nilai materi atau mata pelajaran, karena pengaruhnya dalam mencapai kesempurnaan jiwa dengan cara mengenal Tuhan Yang Maha Esa.
2.    Nilai mata pelajaran karena mengandung nasihat untuk mengikuti jalan hidup yang baik dan utama.
3.    Nilai mata pelajaran, karena pengaruhnya yang berupa latihan, atau nilainya dalam memperoleh kebiasaan yang tertentu dari akal yang dapat berpindah ke lapangan-lapangan yang lain bukan lapangan mata pelajaran yang melatih akal itu pada kali pertama.
4.    Nilai mata pelajaran, yang berfungsi pembudayaan dan kesenangan otak (intellect).
5.    Nilai pelajaran, karena diperlukan untuk mempersiapkan seseorang guna memperoleh pekerjaan atau penghidupan.
6.    Nilai mata pelajaran, karena ia merupakan alat atau media untuk mempelajari ilmu yang lebih berguna.[2]
Identik dengan pendapat tersebut di atas yaitu sebagaimana dikemukakan oleh M. Athiyah Al-Abrasyi yang mengatakan:
1.    Pengaruh mata pelajaran dalam pendidikan jiwa serta kesempurnaan jiwa.
2.    Pengaruh suatu pelajaran dalam bidang petunjuk dan tuntunan.
3.    Mata pelajaran yang dipelajari oleh orang-orang Islam karena mata pelajaran tersebut mengandung kelezatan ilmiah dan kelezatan ideologi.
4.    Orang muslim mempelajari ilmu pengetahuan karena ilmu iu dianggap yang terlezat bagi manusia.
5.    Pendidikan kejuruan, teknik dan industrialisasi buat mencari penghidupan.
6.    Mempelajari beberapa mata pelajaran adalah alat dan pembuka jalan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.[3]
Kurikulum pendidikan Islam merupakan salah satu komponen yang amat penting dalam proses pendidikan Islam. Ia juga menjadi salah satu bagian dari bahan masukan yang mengandung fungsi sebagai alat pencapai tujuan (input instrumental) pendidikan Islam.
Imam Al-Ghazali menyatakan ilmu-ilmu pengetahuan yang harus dijadikan bahan kurikulum lembaga pendidikan yaitu:
1.      Ilmu-ilmu yang fardu’ain yang wajib dipelajari oleh semua orang Islam meliputi ilmu-ilmu agama yakni ilmu yang bersumber dari dalam kitab suci Al Qur’an.
2.      Ilmu-ilmu yang merupakan fardu kifayah, terdiri dari ilmu-ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, seperti ilmu hitung, ilmu kedokteran, ilmu pertanian dan industri.
Dari kedua kategori ilmu-ilmu tersebut, Al-Ghazali merinci lagi menjadi 4, yaitu:
1.      Ilmu-ilmu Al Qur’an dan ilmu agama seperti Fiqih, Hadis dan Tafsir.
2.      Ilmu bahasa, seperti nahwu saraf, makhraj, dan lafal-lafalnya yang membantu ilmu agama.
3.      Ilmu-ilmu yang fardu kifayah, terdiri dari berbagai ilmu yang memudahkan urusan kehidupan duniawi.
4.      Ilmu kebudayaan, seperti syair, sejarah, dan beberapa cabang filsafat.[4]
Ibnu Sina memberikan klasifikasi ilmu pengetahuan untuk diajarkan kepada anak didik ada 2 macam, yaitu:
1.      Ilmu Nadari atau ilmu teoretis adalah ilmu yang mengandung iktibar tentang maujud dari alam dan isinya yang dianalisis secara jujur dan jelas, akan diketahui Maha Penciptanya. Yang termasuk dalam jenis ilmu ini adalah ilmu matematika, ilmu alam.
2.      Ilmu –ilmu ‘Amali (praktis) yang terdiri dari beberapa ilmu pengetahuan yang prinsip-prinsipnya berdasarkan atas sasaran-sasaran analisisnya. Misalnya ilmu yang menganalisis tentang perilaku manusia dilihat dari aspek individual maka timbullah ilmu akhlak. Jika menganalisis tentang perilaku manusia dilihat dari aspek social, maka timbul ilmu politik (ilmu siasah).[5]

F.       CIRI-CIRI KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
1.     Menurut Abdurrahman An-Nahlawi
Sistem pendidikan Islam menuntut pengkajian kurikulum yang Islami, tercermin dari sifat dan karakteristiknya. Kurikulum seperti itu hanya mungkin, apabila bertopang yang mengacu pada dasar pemikiran yang Islami pula, serta bertolak dari pandangan hidup serta pandangan tentang manusia serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yang dilandasi kaidah-kaidah Islami.
Agar kriteria Kurikulum Pendidikan Islam tersebut dapat terpenuhi maka dalam penyusunannya supaya selalu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a.    Sistem dan perkembangan kurikulum hendaknya selaras dengan fitrah insani.
b.    Kurikulum hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam.
c.    Pentahapan serta pengkhususan kurikulum hendaknya memperhatikan periodisasi peserta didik maupun unisitas (ke-khas-an)nya.
d.   Dalam berbagai pelaksanaan, aktivitas, contoh dan nashnya, hendaknya kurikulum memelihara segala kebutuhan nyata kehidupan masyarakat, sambil tetap bertopang pada jiwa dan cita-cita ideal Islamnya.
e.    Secara keseluruhan struktur dan organisasi kurikulum tersebut hendaknya tidak bertentangan dan tidak menimbulkan pertentangan.
f.     Hendaknya kurikulum itu realistik.
g.    Hendaknya metode pendidikan/pengajaran dalam kurikulum itu bersifat luwes.
h.    Hendaknya kurikulum itu efektif.
i.      Kurikulum itu hendaknya memperhatikan pula tingkat perkembangan siswa yang bersangkutan.
j.      Hendaknya kurikulum itu memperhatikan aspek-aspek tingkah laku amaliah Islami.[6]
2.    Menurut Al Syaibani
Kurikulum pendidikan Islam seharusnya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
a.       Kurikulum pendidikan Islam harus menonjolkan mata pelajaran agama dan akhlak.
b.      Kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan pengembangan menyeruluh aspek pribadi siswa, yaitu aspek jasmani, akal, dan rohani.
c.       Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan masyarakat, dunia dan akhirat;jasmani, akal dan rohani manusia.
d.      Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan juga seni halus.
e.       Kurikulum pendidikan Islam mempertimbangkan perbedaan-perbedaan kebudayaan.

BAB II
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
1.      Pertimbangan-pertimbangan para ahli pendidikan Islam dalam menentukan atau memilih kurikulum adalah segi agama akhlak/budi pekerti dan berikutnya barulah dari segi kebudayaan dan manfaat.
2.      Kurikulum itu didesain dengan mempertimbangkan:
a.       Prinsip berkesinambungan.
b.      Prinsip berurutan.
c.       Prinsip integrasi pengalaman.
3.      Inti dari kurikulum adalah kehendak Allah. Maka, kesatuan pengetahuan dan pengalaman akan berpusat pada Allah, pengaturan kehidupan akan sesuai dengan kehendak Allah.
4.      Kerangka kurikulum Islam adalah kerangka kurikulum yang umum, kerangka kurikulum tersebut adalah sebagai berikut:
a.       tujuan,
b.      isi kurikulum,
c.       metode, dan
d.      evaluasi.

B.       SARAN
1.      Kurikulum pendidikan Islam harus disusun dengan mendasarkan dari pada bahan-bahan yang dapat mengantarkan peserta didik kearah hakikat manusia yang berifat monodualis.
2.      Seharusnya mata-mata pelajaran itu masing-masing didesain sesuai dengan perkembangan kemampuan siswa yang bersangkutan, kebutuhan individu dan masyarakatnya menurut tempat dan waktu.
3.      Karena tujuan pendidikan di segala tingkatan dan jenis pendidikan berintikan iman, maka seluruh mata pelajaran dan kegiatan belajar seharusnya bertolak dari dan menuju kepada keimanan kepada Allah. Dengan cara begitu, maka kesatuan pengalaman siswa akan terbentuk, dan kesatuan pengalaman itu dikendalikan oleh otoritas Allah. Dalam keadaan seperti itu, manusia akan mampu menempati posisinya sebgai khalifah Allah yang memiliki otoritas tak terbatas dalam mengatur alam ini.

DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad. 2008. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Uhbiyati, Nur. 2005. Ilmu Pengetahuan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Ramayulis. 2008. Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.


[1]     Prof. H. M. Arifin Med., Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1991.
[2]     Dr. Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filfasat Pendidikan Islam, Bulan Bintang
[3]     M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1970, hal. 173-185
[4]     Prof. M. H. Arifin Med., Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1991, hal. 190
[5]     Ibid., hal. 191
[6]     Abdurrahman an Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat, alih bahasa Drs. Herry Noer Ali, CV. Diponegoro, 1989, hal. 273-277

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More